Pemerintah Kabupaten Gunungkidul secara resmi meluncurkan program MAS GUN MAOS (Masyarakat Gunungkidul Mandiri Olah Sampah) pada hari ini, Selasa, 16 Desember 2025 di Bangsal Sewokoprojo. Program ini merupakan langkah berkelanjutan dari gerakan HOMPIMPAH (Hoby Pilah dan Punguti Sampah dari Rumah) yang telah digulirkan sejak dua tahun lalu.
Jika dua tahun lalu masyarakat fokus pada budaya memilah, MAS GUN MAOS hadir dengan semangat yang lebih progresif, yaitu mengolah sampah organik langsung dari sumbernya. Dengan memanfaatkan metode sederhana namun efektif seperti Galon Tumpuk dan Jugangan, masyarakat diajak untuk mengubah limbah dapur menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Program ini tidak berdiri sendiri. Produk akhir dari pengolahan sampah organik berupa kompos akan dialokasikan untuk mendukung program GERBANG PAGI (Gerakan Pengembangan Pangan dan Gizi) yang telah berjalan sebelumnya. Hal ini menciptakan siklus ekonomi sirkular di mana sampah organik kembali ke tanah untuk mendukung ketersediaan pangan dan gizi keluarga.
Peluncuran hari ini dihadiri oleh sedikitnya 162 perwakilan dari Tim Penggerak PKK tingkat Kabupaten, Kapanewon, hingga Kalurahan. Selain itu, hadir pula Ketua JPSM (Jejaring Pengelola Sampah Mandiri) Kabupaten serta perwakilan JPSM dari lima Kapanewon, yakni Nglipar, Karangmojo, Playen, Wonosari, dan Semanu.
Keterlibatan PKK dinilai sangat krusial mengingat basis massanya yang menyentuh level padukuhan. Saat ini, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kapanewon, hingga Kalurahan telah memiliki Satgas Siaga Sampah, di mana kader PKK menjadi bagian inti di dalamnya sesuai tingkatan masing-masing.
Tujuan utama dari MAS GUN MAOS adalah mempercepat pengurangan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan mengolah sampah organik di rumah, beban TPA diharapkan berkurang secara signifikan sekaligus menjamin keberlanjutan program pangan di Gunungkidul.